Rabu, 27 Oktober 2010

PROFIL DESA SEDAYULAWAS

Desa : SEDAYULAWAS

Kecamatan : BRONDONG


1. SUMBERDAYA ALAM

Desa Sedayulawas memiliki potensi perikanan air tawar/darat komoditi Ikan Mas/tombro 2 ton/ha, jika diuangkan Rp.5.000.000, Ikan Mujair 1 ton/th, jika diuangkan Rp.7.000.000, Ikan lele 15 ton/ha, jika diuangkan 75.000.000, Ikan Bandeng.. ton/th jika diuangkan Rp.0.00, dan untuk Ikan fanami ton/th jika diuangkan Rp.0.00, Pemasarannya dilakukan melalui tengkulak. Dalam bidang pertanian untuk hasil tanaman Palawija komoditi Kedelai luas lahan … ha, Kacang tanah luas lahan 335.000 ha. menghasilkan 35 ton/ha jika diuangkan Rp. 35.000.000 Kacang panjang …. ha, Kacang hijau …. ha, Jagung luas lahan 370.000 ha, ubi jalar … ha, dan Ubi kayu 176.00 ha. Untuk tanaman padi sawah luas lahan 10 ha. dengan hasil panen 17 ton/ha, jika diuangkan Rp.5.500.000, tanaman padi ladang dengan luas lahan … ha, dengan hasil …….. ton jika dirupiahkan Rp. 0.00, disamping itu juga ada tanaman Mangga dengan luas 18,00 ha, sawo dengan luas 3500 ha, pisang luas lahan 7 ha.

Untuk Peternakan ada 130 ekor sapi potong 105.000 ekor kambing,ternak domba … ekor, ayam buras8.700.000 ekor,ayam ras 6900 ekor sedangkan itik sebanyak 3000 ekor. Kuda 7 Ekor

2. SUMBER DAYA MANUSIA

Desa Sedayulawas memiliki 4.015 kepala keluarga (KK). Jumlah penduduk Desa Sedayulawas tahun ini 17.121 Jiwa sedangkan untuk tahun lalu sebanyak 16.577 Dengan struktur mata pencarian, Petani sebanyak 1.763 orang, untuk sektor jasa/perdagangan ada 912 orang sedangkan yang bergerak di sektor industri ada 3216 orang. Ada sebanyak 30 PNS (Pegawai Negeri sipil) dan 15 warga Desa Sedayulawas yang menjadi anggota TNI/POLRI. 145 orang menjadi guru 3 orang menjadi dokter, 5 orang bidan dan 6 orang mantri kesehatan. Jumlah penduduk usia 15-55 yang belum bekerja sebanyak 360 orang sedangkan jumlah angkatan kerja usia 15-55 tahun sebanyak 12.929 orang. Jumlah penduduk Usia 7-15 tahun yang masih sekolah sebanyak 4891 orang sedangkan yang tidak sekolah sebanyak 108 orang.

Dalam bidang kesejahteraan Penduduk Jumlah keluarga Prasejahtera 786 KK, Keluarga Sejahtera I sebanyak 651 KK, Keluarga sejahtera II 522 KK, keluarga sejahtera III 766 KK dan Keluarga Sejahtera III Plus sebanyak 885 KK.

Dalam bidang Ekonomi Masyarakat Produk Domestik bruto tahun ini untuk pertanian Rp.3.3000.000, Ladang/tegalan Rp.20.000,000, Peternakan Rp.15.000.000, Perkebunan Rp.0,00. Perikanan Rp.15.000.000, di sektor perdagangan Rp. 0.00, di bidang jasa Rp.2.500.000,-, bidang penginapan/hotel/sejenisnya Rp. 0. sedangkan untuk industri Rumah Tangga Rp.8.500.000,

Penduduk Desa Sedayulawas yang memiliki kendaraan bermotor roda dua sebanyak 1.700 KK. Pemilik kendaraan roda 3 sebanyak 10 KK, Pemilik kendaraan roda empat/lebih sebanyak 200 KK, Pemilik perahu sebanyak 450 orang, pemilik perahu tempel -150 orang, Sedangkan pemilik pesawat TV 2500 KK. Untuk bangunan rumah menurut dinding tembok sebanyak 300 buah, dinding kayu 400 buah sedangkan rumah Bambu ada 3500 buah.

Senin, 18 Mei 2009

Asal Usul Desa Sedayulawas

Dewi Rara Tangis adalah seorang putri yang sangat cantik sehingga tidak sedikit orang yang ingin memilikinya. Di tengah – tengah perjalanan cinta antara Gajah Belang dan Dewi Rara Tangis, ada seorang putra bangsawan yang berasal dari Tuban yang bernama Jaka Kuncir yang ingin memiliki dan meminang Dewi Rara Tangis. Begitu juga dengan Indra Soewarna putra dari Kiageng Rengel ( sambas ) juga ingin menjadi pendamping Dewi Rara Tangis untuk menjadi istrinya, tapi semua itu tinggallah impian saja. Dewi Rara Tangis tidak mencintai Indra Soewarna ataupun Jaka Kuncir, ia hanya mencintai Gajah Belang meskipun Gajah Belang memiliki wajah yang sangat jelek. Dewi Rara Tangis menolak kepada kedua putra bangsawan itu untuk dijadikan pendamping hidup karena selain Dewi Rara Tangis tidak mencintai mereka berdua, mereka berdua mempunyai kepercayaan yang berbeda, mereka beragama budha.

Raden Rangga Jaya Sasmita atau ayah Dewi Rara Tangis mengetahui hubungan anaknya dengan Gajah Belang. Raden Rangga Jaya Sasmita tidak memperbolehkan kepada anaknya Dewi Rara Tangis supaya tidak lagi berhubungan dengan Gajah Belang, karena wajah Gajah Belang yang sangat jelek. Gajah Belang juga merupakan seorang rakyat jelata yang tidak pantas mempunyai hubungan baik dengan seorang putrid Tumenggung. Raden Rangga Jaya Sasmita beranggapan bahwa hubungan antara Dewi Rara Tangis dengan Gajah Belang merupakan suatu penghinaan besar bagi diri Raden Rangga Jaya Sasmita, karena anaknya yang sangat cantik yang dikagumi banyak orang mencintai seorang pemuda yang berasal dari rakyat biasa atau bukan bangsawan.

Raden Rangga Jaya Sasmita bermaksud untuk menghancurkan hubungan antara Dewi Rara Tangis dengan Gajah Belang. Namun, segala usaha Raden Rangga Jaya Sasmita yang ingin memisahkan cinta yang terjalin antara Dewi Rara Tangis dan Gajah Belang tidak ada hasilnya. Bahkan mereka sangat dekat dan kuat menjaga hubungan mereka. Hingga berulang kali Raden Rangga Jaya Sasmita berusaha, namun semua itu sia – sia tidak ada hasilnya. Segala usaha Raden Rangga Jaya Sasmita itu tidak berhasil, ia ingin membunuh dengan cara yang licik. Raden Rangga Jaya Sasmita berhasil membunuh Gajah Belang. Dengan akal licik itu Gajah Belang terbunuh dengan sebuah panah yang diluncurkan ke arah dada Gajah Belang oleh Raden Rangga Jaya Sasmita ayah Dewi Rara Tangis. Anak panah yang ada di dada Gajah Belang tersebut kemudian diambil dengan di cabut oleh Raden Rangga Jaya Sasmita dan muncullah suatu keajaiban. Setelah di cabutnya anak panah tersebut mengalirlah darah Gajah Belang yang berwarna putih. Setelah melihat suatu keajaiban pada diri Gajah Belang, Raden Rangga Jaya Sasmita baru menyadari atas segala perbuatan yang ia perbuat yang selama ini mempunyai niat untuk memisahkan hubungan Dewi Rara Tangis anaknya dengan Gajah Belang. Raden Rangga Jaya Sasmita baru sadar bahwa perbuatan yang paling buruk selama hidupnya adalah perbuatan yang dilakukan kepada Gajah Belang.

Dewi Rara Tangis kemudian mengetahui segala perbuatan ayahnya yakni Raden Rangga Jaya Sasmita kepada Gajah Belang. Dewi Rara Tangis sangat sedih setelah mendengar kejadian yang selama ini tidak disangka. Sementara itu Raden Rangga Jaya Sasmita melihat anak gadisnya yang sedih, ia juga merasa bahwa membunuh Gajah Belang adalah suatu kesalahan yang sangat besar. Dewi Rara Tangis marah dengan ayahnya Raden Rangga Jaya Sasmita dan untuk itu Dewi Rara Tangis ingin segera untuk meninggalkan rumahnya dan juga keluarganya. Dewi Rara Tangis kemudian meninggalkan rumahnya dan pergi. Dalam kepergian Dewi Rara Tangis, Raden Rangga Jaya Sasmita beserta keluarganya sangat kecewa kehilangan seorang gadis yang sangat cantik yang mana Dewi Rara Tangis tidak akan kembali pulang untuk selamanya. Dewi Rara Tangis pergi dan tidak kembali pulang hanya untuk pergi bertapa untuk selama – lamanya. Dalam janjinya Dewi Rara Tangis akan berusaha untuk menjadi orang yang cantik untuk selama – lamanya. Dewi Rara Tangis pergi bertapa untuk selamanya hanya untuk mengenang Gajah Belang dan untuk menjadi orang yang cantik selama – lamanya. Dalam bahasa jawanya “ DADI WONG SING AYU SAK LAWAS – LAWASE atau SIDO AYU SAK LAWASE “. Kemudian wilayah itu mempunyai kisah tersendiri, dan untuk itu orang – orang yang ada disekitar wilayah tersebut akan mengenang dan mengabadikan menjadi nama atau sebutan untuk sebuah daerah dengan kata “ DESA SEDAYULAWAS “.

Dengan demikian nama SEDAYULAWAS hingga saat ini masih abadi dengan sebuah desa yang aman dan makmur dalam kehidupan penduduknya.

Sebelumnya...